Masamba,- Penyuluh agama adalah Pegawai yang diberitugas, tanggungjawab, dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan keagamaan dan penyuluhan pembangunan melalui bahasa agama yakni Bahasa Agama Hindu. Karena itu Penyuluh adalah membantu Pemerintah (Bimas Hindu Kanwil Kemenag Sul-Sel) dalam menyebarkan nilai-nilai ajaran Hindu agar umat memiliki pemahaman yang benar terhadap ajaran agamanya. Untuk dapat menyampaikan ajaran agama Hindu maka seorang penyuluh wajib memahami tugasnya dan memahami ajaran agama Hindu dan yang terpenting pula ia harus memiliki sifat empati, kesadaran diri, dapat mengatasi masalah keumatan, berpikir kritis, mampu melakukan komunikasi yang baik dan dapat mengendalikan emosional. Hal ini disampaikan oleh Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan (Bapak Simon Kendek Paranta’) pada acara pembukaan Orientasi Pembinaan dan Pengembangan Penyuluh Agama Hindu Non PNS Tahun 2016 yang berlangsung dari tanggal 16 s.d 18 Juni 2016 di Hotel Remaja Masamba Kabupaten Luwu Utara.
Kegiatan orientasi ini diikuti oleh para penyuluh agama Hindu Non PNS sebanyak 40 orang yang berasal dari 6 kabupaten/kota yang meliputi Kota Makassar, Kab.Sidrap, Kab. Tana Toraja, Kota Palopo, Kab. Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Materi orientasi meliputi Tugas Penyuluh dan Permasalahan keumatan, Teknik Dharma Wacana yang Efektif, Pengembangan Materi Bimbingan dan Penyuluhan dan Pemanfaatan IT sebagai Media Penyuluhan yang masing dibawakan oleh Simon Kendek Paranta, Drs. Made Jana, M.Pd, I Ketut Mundra dan Wayan Shantika, S.Kom.
Di Sulawesi Selatan yang menjadi permasalahan keumatan adalah sangat kompleks yakni SDM umat Hindu, ekonomi umat, Sarana dan Prasarana sebagai penunjang, honor penyuluh sangat minim dibanding dengan tugas penyuluh yang wilayahnya sangat luas, kewajiban umat untuk melakukan dana punya untuk operasional lembaga, belum akuratnya data keagamaan, aset lembaga, sekretariat lembaga, pemahaman umat terhadap ajaran agamanya, para penyuluh ada yang belum mampu memberikan penyuluhan (dharma wacana) dan lainnya. Karena itu penyuluh sangat diharapkan tenaganya untuk membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini dengan jalan meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama, mengembangkan kehidupan sosial yang harmonis, meningkatkan pelayanan umat.
Dari Drs. Made Jana, M.Pd yang membawakan materi Dharma Wacana ditekankan adalah seorang yang membawakan dharma wacana harus memperhatikan sikap dan penampilan (pakaian, mimik, akting, santai, penguasaan materi) dan memiliki keyakinan yang mantap). Seorang penyuluh yang akan memberikan bimbingan atau penyuluhan baik melalui konsultasi, dharma wacana atau dialog – dialog, maka ia harus dapat mengembangkan materi yang di bawakan artinya jangan sampai kekurangan bahan. Karena itu seorang penyuluh harus membuat materi penyuluhan sebelum malakukan penyuluhan. Sementara Wayan Shantika, S.Kom dengan materi Pemanfaatan IT menekankan bahwa pada jaman sekarang penggunaan media/IT sudah tidak asing lagi, karena itu seorang penyuluh harus memahami kegunaan dan mampu menggunakan IT. Melalui pemanfaatan IT yang efektif sehingga pelaksanaan penyuluhan dapat terlaksana dengan tidak tergantung waktu dan tempat, cakupan sangat luas, pendistribusian yang cepat dan keragaman cara penyampaian. IT yang dapat dimanfaatan bagi seorang penyuluh adalah internet atau mesin pencari informasi/materi penyuluhan serta media sosial seperti line, whatsapp, facebook dll. Pada akhir acara orientasi diisi dengan diskusi yang berkaitan dengan permasalahan keumatan pada masing masing wilayah penyuluhan dan pengenalan penggunaan internet dan webblog. (ws,km),Wyn SJ
Dokumentasi Foto :
Diposkan oleh Bimas Hindu sul-sel di 09.00